Siapa Anda tanpa Rakyat Anda?
Sore itu suasana hatiku sedang kacau. Banyak yang berkecambuk
dan “bermain”. Risau mulai menghampiriku dan menanyakan keadaanku. “Keningmu
mengkerut dan wajahmu tampak garang. Adakah yang mengganggumu sore ini?” tanyanya
padaku.
”Aku sedang melihat orang yang berada di hadapanku ini.” Jawabku
singkat.
Lalu waktu datang dan bergabung. Dia juga tak ingin kalah dan
bertanya padaku.
”Ada apa gerangan orang yang ada dihadapanmu itu?” tanya waktu
penasaran.
“Kau lihat, orang ini memiliki jabatan teratas di jajarannya.
Banyak orang menganggap dia akan membawa perubahan yang berarti.” tungkasku pendek.
Lalu waktu mulai mendekat dan berbisik padaku. “Perubahan?
Perubahan seperti apa?” tanyanya dengan senyum sinis.
Angin menemani kami, dia hanya berlalu lalang di hadapan kami
(aku,risau dan waktu). Kedatangannya bukan tak dianggap olehku, tapi ku acuhkan
lebih tepatnya.
Kami sama-sama memperhatikan orang yang ada dihadapanku.
Sosoknya biasa seperti orang pada umumnya. Sering kulihat dia menorehkan senyum
pada orang disekitarnya. Sekilas orang itu adalah sosial.
“Petingggi” begitulah sapaannya. Sapaan yang hanya diberikan
untuk orang yang memiliki jabatan teratas di jajarannya.
Setiap kali orang bertemu dengannya, semuanya menundukkan
kepala. Sikap yang kata orang kebanyakan “mencoba menghargai.”
Ku amati gerak gerik “Petinggi” ini. Senyumnya hanyalah cara
untuknya agar tak terlihat grogi. Petinggi ini orang yang selalu memberikan
pertanyaan saat ditanya. Pertanyaan dijawab dengan pertanyaan. Seperti itu saja
terus. Lalu, bagaimana kesimpulan dapat diambil?
Seseorang tampak menghampirinya sore itu. Dia Zango, salah
satu rakyat dari sang Petinggi. Kedatangannya mengungkapkan kerisauannya.
“Jika boleh ku bertanya, sebenarnya akan dibawa kemana Negara
Kecil kita ini wahai Petinggiku?” tanyanya dengan mimik muka bingung.
“Memangnya kau ingin Negara Kecil ini dibawa kemana?” jawab
Petinggi.
Zango diam sejenak mendengar perkataan Petinggi tersebut.
Lalu, pertanyaan kedua pun dia ajukan kembali.
“Sebenarnya ingin kau
bawa kemana Negara Kecilku ini wahai Petinggiku? Aku hanyalah rakyatmu yang
setia menuruti maumu. Bukankah keputusan ada di tanganmu wahai Petinggi ku?”
tanyanya kembali kepada Petinggi.
“Percayakan semua padaku, Zango.” jawabnya pendek.
Zango ragu akan jawaban dari sang Petinggi. Namun dia tak
dapat berbuat apa-apa dan berusaha mempercayai ucapan dari Petinggi.
“Aku akan terus memantaumu, Negara Kecil ini milikku. Dan
janganlah kau jadikan negaraku semaumu.” keluhnya dalam hati.
Petinggi membuat kebijakan bersama dengan kurcaci-kurcacinya.
Hanya mereka saja yang “berbicara” dalam forum rahasia itu. Akhirnya keputusan
pun telah dibuat. Kebijakan yang menurutnya akan membawa kebaikan bagi rakyatnya.
Entah apatis atau rakyat memang tak mau tahu lagi karena kebanyakan kebijakan
yang dibuat hanya berlalu begitu saja. Ataukah rakyat memang tidak pernah
merasakan dampak “kebaikan” dari kebijakan yang dibuat.
Zango tak ingin kebijakan itu berlaku. Kebijakan yang
menurutnya terlalu membelenggunya. Akhirnya Zango pun datang menemui
Petingginya.
“Wahai Petinggiku, sudah yakinkah Anda dengan kebijakan ini?”
tanya Zango kepada Petinggi.
“Sudah ku bilang, yakinlah padaku. Aku akan membawa kebaikan
untukmu.” jawab Petinggi sedikit membelalakkan mata.
“Wahai Petinggiku, kebijakan ini sungguh membuatku terbelenggu.
Aku tak dapat melihat matahari lagi pada pagi hari. Aku pun tak dapat berlari
mengitari istana ini seperti hari-hari sebelumnya. Bagaimana mungkin Engkau
berkata ini kebaikan untukku?” protes Zango
“Kau! Bukankah aku sudah berusaha membebaskanmu dari belenggu
tahun lalu. Ku tawari kamu dengan segelas anggur yang memabukkan tapi kamu
menolaknya. Jangan sok suci kamu dihadapanku!” marah sang Petinggi pada Zango
“Petinggi..hentikan itu semua. Anda tak mungkin bisa membuat
rakyat Anda hanya untuk kesenangan sesaat.” pinta Zango.
“Pergilah dari hadapanku sekarang.” suruh Petinggi pada Zango
“Baiklah Petinggi. Saya pamit.” pamit Zango meninggalkan
Petinggi.
Kebijakan yang telah diputuskan nyatanya tak membawa
perubahan yang lebih baik. Rakyatnya satu persatu mulai tak kelihatan batang
hidungnya.
“Kemana yang lain?” tanya Petinggi pada kurcacinya.
“Hamba tak tahu apa-apa Petinggi.” ucap salah satu kurcacinya
dengan nada yang sangat pelan.
“Bagaimana kau bisa tidak tahu! Bukankah ini tugasmu. Untuk apa
aku “miliki” kamu jika kamu tak dapat bertugas dengan baik.” marah Petinggi
pada salah satu kurcaci itu.
“Petinggi..ini semua salahmu. Kau terlalu mengekang rakyatmu.
Mereka ingin melihat dunia luar. Kau petakan hidup dan arah dari
kreatifitasnya. Bagaimana mungkin mereka bisa tetap denganmu? Mereka juga akan
bosan dengan rutinitas yang seperti ini-ini saja.” jawab kurcaci itu dengan
sedikit gemetaran.
“Aku ini punya niat yang baik. Jika kalian fokus terhadap
Negara Kecil ini, bukankah tak mungkin lagi Negara Kecil ini akan kembali
bangkit seperti pendahulunya dulu?” bingung Petinggi.
“Petinggi..Kaulah petinggi disini. Apakah kebijakanmu telah
kau pertanyakan pada rakyatmu? Setujukah mereka? Kau itu Petinggi. Jika Petinggi
tak memiliki rakyat, lalu siapakah Anda tanpa rakyat Anda?” salah satu kurcaci
memberanikan diri untuk menjawabnya.
Lalu keadaan pun mulai hening. Petinggi sibuk dengan
pertanyaan-pertanyaan yang ada dipikirannya yang membuatnya heran dengan
kondisi ini.
“Apa yang sedang terjadi? Ada apa ini? Benarkah ku salah
dalam memperlakukan rakyatku?” tanya Petinggi pada dirinya sendiri.
Kaka, mana lagi tulisannya??? nunggu neh. Lagi sibukkah?? sampe ndak ada waktu menulis 'lagi'.. ^_^
BalasHapusini keren ) terus semangat menulis ya )
BalasHapusMaaf menunggu lama..
BalasHapusbiasa..kemarin2 ada maslah teknis.wkwk