Sabtu, 02 Maret 2013

Siapa Anda?

Siapa Anda tanpa Rakyat Anda?
Sore itu suasana hatiku sedang kacau. Banyak yang berkecambuk dan “bermain”. Risau mulai menghampiriku dan menanyakan keadaanku. “Keningmu mengkerut dan wajahmu tampak garang. Adakah yang mengganggumu sore ini?” tanyanya padaku.
”Aku sedang melihat orang yang berada di hadapanku ini.” Jawabku singkat.
Lalu waktu datang dan bergabung. Dia juga tak ingin kalah dan bertanya padaku.
”Ada apa gerangan orang yang ada dihadapanmu itu?” tanya waktu penasaran.
“Kau lihat, orang ini memiliki jabatan teratas di jajarannya. Banyak orang menganggap dia akan membawa perubahan yang berarti.” tungkasku pendek.
Lalu waktu mulai mendekat dan berbisik padaku. “Perubahan? Perubahan seperti apa?” tanyanya dengan senyum sinis.
Angin menemani kami, dia hanya berlalu lalang di hadapan kami (aku,risau dan waktu). Kedatangannya bukan tak dianggap olehku, tapi ku acuhkan lebih tepatnya.
Kami sama-sama memperhatikan orang yang ada dihadapanku. Sosoknya biasa seperti orang pada umumnya. Sering kulihat dia menorehkan senyum pada orang disekitarnya. Sekilas orang itu adalah sosial.
“Petingggi” begitulah sapaannya. Sapaan yang hanya diberikan untuk orang yang memiliki jabatan teratas di jajarannya.
Setiap kali orang bertemu dengannya, semuanya menundukkan kepala. Sikap yang kata orang kebanyakan “mencoba menghargai.”
Ku amati gerak gerik “Petinggi” ini. Senyumnya hanyalah cara untuknya agar tak terlihat grogi. Petinggi ini orang yang selalu memberikan pertanyaan saat ditanya. Pertanyaan dijawab dengan pertanyaan. Seperti itu saja terus. Lalu, bagaimana kesimpulan dapat diambil?
Seseorang tampak menghampirinya sore itu. Dia Zango, salah satu rakyat dari sang Petinggi. Kedatangannya mengungkapkan kerisauannya.
“Jika boleh ku bertanya, sebenarnya akan dibawa kemana Negara Kecil kita ini wahai Petinggiku?” tanyanya dengan mimik muka bingung.
“Memangnya kau ingin Negara Kecil ini dibawa kemana?” jawab Petinggi.
Zango diam sejenak mendengar perkataan Petinggi tersebut. Lalu, pertanyaan kedua pun dia ajukan kembali.
 “Sebenarnya ingin kau bawa kemana Negara Kecilku ini wahai Petinggiku? Aku hanyalah rakyatmu yang setia menuruti maumu. Bukankah keputusan ada di tanganmu wahai Petinggi ku?” tanyanya kembali kepada Petinggi.
“Percayakan semua padaku, Zango.” jawabnya pendek.
Zango ragu akan jawaban dari sang Petinggi. Namun dia tak dapat berbuat apa-apa dan berusaha mempercayai ucapan dari Petinggi.
“Aku akan terus memantaumu, Negara Kecil ini milikku. Dan janganlah kau jadikan negaraku semaumu.” keluhnya dalam hati.
Petinggi membuat kebijakan bersama dengan kurcaci-kurcacinya. Hanya mereka saja yang “berbicara” dalam forum rahasia itu. Akhirnya keputusan pun telah dibuat. Kebijakan yang menurutnya akan membawa kebaikan bagi rakyatnya. Entah apatis atau rakyat memang tak mau tahu lagi karena kebanyakan kebijakan yang dibuat hanya berlalu begitu saja. Ataukah rakyat memang tidak pernah merasakan dampak “kebaikan” dari kebijakan yang dibuat.
Zango tak ingin kebijakan itu berlaku. Kebijakan yang menurutnya terlalu membelenggunya. Akhirnya Zango pun datang menemui Petingginya.
“Wahai Petinggiku, sudah yakinkah Anda dengan kebijakan ini?” tanya Zango kepada Petinggi.
“Sudah ku bilang, yakinlah padaku. Aku akan membawa kebaikan untukmu.” jawab Petinggi sedikit membelalakkan mata.
“Wahai Petinggiku, kebijakan ini sungguh membuatku terbelenggu. Aku tak dapat melihat matahari lagi pada pagi hari. Aku pun tak dapat berlari mengitari istana ini seperti hari-hari sebelumnya. Bagaimana mungkin Engkau berkata ini kebaikan untukku?” protes Zango
“Kau! Bukankah aku sudah berusaha membebaskanmu dari belenggu tahun lalu. Ku tawari kamu dengan segelas anggur yang memabukkan tapi kamu menolaknya. Jangan sok suci kamu dihadapanku!” marah sang Petinggi pada Zango
“Petinggi..hentikan itu semua. Anda tak mungkin bisa membuat rakyat Anda hanya untuk kesenangan sesaat.” pinta Zango.
“Pergilah dari hadapanku sekarang.” suruh Petinggi pada Zango
“Baiklah Petinggi. Saya pamit.” pamit Zango meninggalkan Petinggi.
Kebijakan yang telah diputuskan nyatanya tak membawa perubahan yang lebih baik. Rakyatnya satu persatu mulai tak kelihatan batang hidungnya.
“Kemana yang lain?” tanya Petinggi pada kurcacinya.
“Hamba tak tahu apa-apa Petinggi.” ucap salah satu kurcacinya dengan nada yang sangat pelan.
“Bagaimana kau bisa tidak tahu! Bukankah ini tugasmu. Untuk apa aku “miliki” kamu jika kamu tak dapat bertugas dengan baik.” marah Petinggi pada salah satu kurcaci itu.
“Petinggi..ini semua salahmu. Kau terlalu mengekang rakyatmu. Mereka ingin melihat dunia luar. Kau petakan hidup dan arah dari kreatifitasnya. Bagaimana mungkin mereka bisa tetap denganmu? Mereka juga akan bosan dengan rutinitas yang seperti ini-ini saja.” jawab kurcaci itu dengan sedikit gemetaran.
“Aku ini punya niat yang baik. Jika kalian fokus terhadap Negara Kecil ini, bukankah tak mungkin lagi Negara Kecil ini akan kembali bangkit seperti pendahulunya dulu?” bingung Petinggi.
“Petinggi..Kaulah petinggi disini. Apakah kebijakanmu telah kau pertanyakan pada rakyatmu? Setujukah mereka? Kau itu Petinggi. Jika Petinggi tak memiliki rakyat, lalu siapakah Anda tanpa rakyat Anda?” salah satu kurcaci memberanikan diri untuk menjawabnya.
Lalu keadaan pun mulai hening. Petinggi sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada dipikirannya yang membuatnya heran dengan kondisi ini.
“Apa yang sedang terjadi? Ada apa ini? Benarkah ku salah dalam memperlakukan rakyatku?” tanya Petinggi pada dirinya sendiri.

3 komentar:

  1. Kaka, mana lagi tulisannya??? nunggu neh. Lagi sibukkah?? sampe ndak ada waktu menulis 'lagi'.. ^_^

    BalasHapus
  2. ini keren ) terus semangat menulis ya )

    BalasHapus
  3. Maaf menunggu lama..
    biasa..kemarin2 ada maslah teknis.wkwk

    BalasHapus