Rabu, 19 Maret 2014

Hujan Sore Ini

Tes..tes..rinai hujan mulai membasahi tubuhku. Ku berlari mencari tempat berteduh. Tak berselang lama, hujan semakin deras. Aku terjebak di bawah atap toko sepatu. Karena derasnya hujan, ku urungkan niat untuk menembusnya.
Aku hanya bisa berdiri sambil memeluk laptopku yang takut terkena hujan. Ku tatap langit yang kelabu pertanda hujan masih lama. Udara dingin menyeruak menembus hingga ke tulang rusuk. Tak ku gubris. Orang-orang yang berada di sekitarku mulai merapatkan diri karena cipratan hujan.

Ku lihat ada warung penjual bakso di seberang jalan. Ibu itu bersama anaknya. Bocah kecil yang bersamanya ku taksir umurnya masih sekitar 5 tahunan. Tak ada pembeli saat itu, semua orang sedang sibuk menyelamatkan diri dari hujan. Pandanganku tak lepas dari bocah perempuan itu. Ku amati gerak-geriknya. Dia mulai merengek, seakan meminta sesuatu kepada ibunya. Lama sekali rayuannya tak dihiraukan oleh ibunya. Sesekali dia memeluk dan menangis di pangkuan ibunya.
Entah karena tak tega, tampak ibu itu mengangguk dan mengacungkan telunjuknya kepada si bocah. Dengan secepat kilat bocah tersebut tersenyum dan lari keluar. Dibiarkan tubuh mungilnya itu basah karena hujan. Dia tertawa sambil menari-menari menikmati hujan sore itu.

“Aku ingin seperti itu.” ucapku dalam batin. Tanpa sengaja ku ucapkan kalimat itu dalam hati. Aku ingin merdeka dan bebas tanpa beban seperti  bocah perempuan yang ada di hadapanku. Bukan lagi menjadi buruh pemerintahan seperti sekarang ini. Rutinitas tanpa henti dimana kreativitas di belenggu dan fisik manusia dijadikan seperti mesin, mengurusi administrasi dan ber map-map sertifikasi.

Aku ingin seperti dia. Yang bebas melakukan apa saja. Merasakan hujan saat orang lain tak ingin kehujanan. Menari dan tertawa tanpa harus mempedulikan pandangan orang. Terkadang, kita juga perlu seperti anak kecil. Menikmati hidup. Terlepas dari rutinitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar