Tes..tes..rinai
hujan mulai membasahi tubuhku. Ku berlari mencari tempat berteduh. Tak
berselang lama, hujan semakin deras. Aku terjebak di bawah atap toko sepatu.
Karena derasnya hujan, ku urungkan niat untuk menembusnya.
Aku
hanya bisa berdiri sambil memeluk laptopku yang takut terkena hujan. Ku tatap
langit yang kelabu pertanda hujan masih lama. Udara dingin menyeruak menembus
hingga ke tulang rusuk. Tak ku gubris. Orang-orang yang berada di sekitarku
mulai merapatkan diri karena cipratan
hujan.
Ku
lihat ada warung penjual bakso di seberang jalan. Ibu itu bersama anaknya.
Bocah kecil yang bersamanya ku taksir umurnya masih sekitar 5 tahunan. Tak ada
pembeli saat itu, semua orang sedang sibuk menyelamatkan diri dari hujan. Pandanganku
tak lepas dari bocah perempuan itu. Ku amati gerak-geriknya. Dia mulai merengek,
seakan meminta sesuatu kepada ibunya. Lama sekali rayuannya tak dihiraukan oleh
ibunya. Sesekali dia memeluk dan menangis di pangkuan ibunya.
Entah
karena tak tega, tampak ibu itu mengangguk dan mengacungkan telunjuknya kepada
si bocah. Dengan secepat kilat bocah tersebut tersenyum dan lari keluar.
Dibiarkan tubuh mungilnya itu basah karena hujan. Dia tertawa sambil
menari-menari menikmati hujan sore itu.
“Aku
ingin seperti itu.” ucapku dalam batin. Tanpa sengaja ku ucapkan kalimat itu
dalam hati. Aku ingin merdeka dan bebas tanpa beban seperti bocah perempuan yang ada di hadapanku. Bukan
lagi menjadi buruh pemerintahan seperti sekarang ini. Rutinitas tanpa henti
dimana kreativitas di belenggu dan fisik manusia dijadikan seperti mesin, mengurusi
administrasi dan ber map-map sertifikasi.
Aku
ingin seperti dia. Yang bebas melakukan apa saja. Merasakan hujan saat orang
lain tak ingin kehujanan. Menari dan tertawa tanpa harus mempedulikan pandangan
orang. Terkadang, kita juga perlu seperti anak kecil. Menikmati hidup. Terlepas
dari rutinitas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar